PLN Bantah Isu Harga Listrik di Malaysia Lebih Murah dari Indonesia

0
70
IlustraTDL
Ilustrasi TDL. (beritadunia.com)

Jakarta, MENTARI.ONLINE –  Pihak PLN dengan tegas membantah data yang menyebutkan tarif listrik di Malaysia lebih murah dibanding Indonesia. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kelistrikan itu mengklaim justru tarif listrik di Indonesia lebih murah dari Malaysia.

“Tidak ada tarif listrik Malaysia lebih murah dari Indonesia, kecuali rumah tangga rata-rata. Tapi jangan lupa kita masih menyubsidi 27 juta pelanggan, tarifnya Rp 605/kWh. Rata-rata tertimbang tarif kita Rp 1.360/kWh, Malaysia Rp 1.374/kWh,” kata Kepala Satuan Unit Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka, seperti dilansir dari detikcom, Sabtu (8/7/2017).

Untuk tarif listrik pelanggan rumah tangga misalnya, Indonesia masih memberikan subsidi untuk 23 juta pelanggan 450 VA dan 4,1 juta pelanggan 900 VA. Para pelanggan yang disubsidi hanya membayar Rp 605/kWh, jauh lebih murah dibanding tarif listrik di Malaysia.

Secara rata-rata, kalau pelanggan yang disubsidi juga dihitung, tarif listrik di Indonesia hanya Rp 1.360/kWh, lebih rendah dibanding rata-rata di Malaysia yang sebesar Rp 1.374/kWh.

Sedangkan untuk golongan pelanggan bisnis, Made mengklaim tarif di Indonesia juga lebih rendah dibanding Malaysia. Di Indonesia, katanya, rata-rata tarif pelanggan bisnis hanya Rp 1.159/kWh, sementara di Malaysia Rp 1.350/kWh.

Demikian juga tarif listrik industri, menurut Made masih lebih kompetitif tarif di Indonesia. Industri besar di Malaysia, katanya, dikenai tarif Rp 1.066/kWh, sedangkan di Indonesia cuma Rp 1.011/kWh.

IlustraTDL
Ilustrasi TDL. (beritadunia.com)

Ia menambahkan, melistriki wilayah Indonesia jauh lebih sulit dibanding Malaysia. Indonesia punya belasan ribu pulau, Malaysia jauh lebih sedikit. Malaysia tidak punya banyak daerah terpencil seperti Indonesia.

Daerah-daerah terpencil di Indonesia sulit dijangkau, PLN terpaksa menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang menggunakan solar untuk menerangi pelosok negeri. Akibatnya, rata-rata biaya pokok penyediaan (BPP) listrik jadi mahal.

“Kalau Malaysia sebagian besar daratan. Hambatan yang dia miliki tidak seperti kita. Kita punya ribuan daerah terisolasi yang mau tidak mau pakai PLTD. Solar adalah energi primer paling mahal,” jelas Made. (meu/pjk)