Akhir November, THR Sriwedari Bakal Tinggal Kenangan

0
156
Stand untuk kalangan anak-anak di THR Sriwedari yang sebentar lagi akan jadi kenangan saja. (Mentari.online)

Solo,MENTARI.ONLINE-Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari, Solo, satu tengah bulan lagi bakal tinggal kenangan. Manajemen akan mengakhiri operaisnya akhir Nopember mendatang, meski Pemkot Surakarta sudah memberi batas waktu pengosongan pada akhir Desember.

Direktur THR Sriwedari, Sinyo Sujarkasi mengatakan, terhitung sejak 30 November nanti, operasional sarana hiburan di kawasan taman peninggalan Sinuhun Pakoe Boewono X itu dihentikan.

“Bahkan sebagian wahana permainan, saat ini sudah dibongkar, sebelum kawasan tersebut dikosongkan pada awal Desember,” kata Direktur THR Sriwedari, Sinyo Sujarkasi, Kamis (12/10/2017) kepada media, termasuk Mentari.Online.

Kabarnya lahan bekas THR Sriwedari, akan dimanfaatkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta untuk membangun masjid raya.

Menurut Sinyo sebenarnya menghentikan operasional THR Siwedari adalah pekerjaan yang cukup berat. Bukan saja menyangkut nasib para karyawan, katanya, tetapi juga komunitas yang telah terbangun selama puluhan tahun.

Komunitas-komunitas THR Sriwedari tersebut di antaranya, Koes Plus mania, dangduter, pecinta tembang kenangan, dan sebagainya. Mereka selama ini memposisikan THR Sriwedari sebagai wadah sekaligus tempat untuk berinteraksi.

Juga ketika THR harus hengkang dari Taman Sriwedari, mereka juga ikut memberi saran serta alternatif agar THR Sriwedari tetap eksis.

Semula, pihak manajemen THR Sirwedari memang mengincar lokasi baru seluas 2 hektar di tepi Bengawan Solo yang berada di kawasan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), seperti tawaran Pemkot Surakarta.

Namun dalam proses negosiasi sewa menyewa lahan antara manajemen THR Sriwedari dengan pihak TSTJ, belum diperoleh titik temu.

Stand untuk kalangan anak-anak di THR Sriwedari yang sebentar lagi akan jadi kenangan saja. (Mentari.online)

“Biaya sewa lahan di TSTJ terlalu tinggi, dan negosiasi selama hampir setengah tahun terakhir, tak juga diperoleh titik temu,” ujar Sinyo.

Untuk menutup biaya operasional, termasuk sewa lahan, menurut Sinyo, sebenarnya bisa saja disiasati dengan menaikkan tarif tiket masuk dan wahana permainan. Persoalannya, THR Sriwedari sejak awal berkomitmen menyediakan sarana hiburan dan permainan kepada masyarakat dengan biaya murah.

Karenanya, lanjut Sinyo, jika pihaknya harus menaikkan tarif tiket serta wahana permainan sekadar untuk menutup biaya operasional, menurutnya, melenceng dari komitmen awal, sehingga langkah menghentikan operasional sebagai pilihan terbaik.

Sinyo mengungkapkan, sejauh ini masih dalam tataran pertimbangan. Jika memang nanti diperoleh lokasi baru dengan biaya sewa lahan terjangkau, terbuka kemungkinan THR Sriwedari dioperasionalkan kembali.

“Yang jelas, untuk sementara waktu, seluruh wahana permainan setelah dibongkar akan disimpan dalam gudang, sembari menunggu perkembangan lebih lanjut,” ujarnya dengan nada sedih. (Reko Suroko)