Terdampak Proyek KA Bandara, Warga Kadipiro Ajukan Ganti Rugi Empat Kali Lipat

0
229
Kawasan kampung Warga Lemah Abang RT 002/RW 021 Kadipiro.(Mentari.online)

Solo,MENTARI.ONLINE – Warga Kelurahan Kadipiro terdampak proyek kereta api (KA) Bandara mengajukan ganti rugi tanah sebesar tiga hingga empat kali lipat dari harga pasaran. Mereka beralasan sudah nyaman tinggal di lokasi yang terdampak proyek pembangunan jalur KA Bandara Adi Soemarmo-Stasiun Solo Balapan.

Warga Lemah Abang RT 002/RW 021 Kadipiro, Wartono, siap melepas lahan yang kini ditempatinya tersebut untuk kepentingan proyek pembangunan jalur KA bandara, asal pemerintah memberikan ganti rugi yang sebanding.

Wartono meminta pemerintah menghargai lahan miliknya minimal empat kali lipat dari harga pasaran tanah di Lemah Abang yang sekarang diklaim mencapai Rp3 juta/meter persegi.

Dengan demikian, nilai kompensasi itu mencapai Rp12 juta/meter persegi. “Wajar jika warga mengusulkan nilai ganti rugi tiga kali hingga empat kali lipat dari harga pasaran tanah di sini. Pertimbangannya kan jelas, kami mengalami kerugian bukan saja materiil tapi juga immateriil,” kata Wartono, Kamis (23/11/2017).

Dia menambahkan, sudah nyaman tinggal di Kampung Lemah Abang. Anaknya bersekolah di dekat rumah. Begitu juga suaminya yang bekerja tidak terlalu jauh dari Kadipiro. wartono berharap  proyek pembangunan jalur KA bandara tidak merugikan warga.

“Warga bahkan dengan mudah sekarang mengakses layanan kesehatan karena dekat dengan rumah sakit umum daerah (RSUD) Kota Solo di Ngipang,” ujarnya.

Ia belum berencana mencari rumah baru. Dia baru akan mencari rumah setelah mendapatkan kepastian status terdampak atau tidak dan juga nilai ganti rugi dari pemerintah.

Jika harus dipindah dalam waktu dekat, dia  berencana mengontrak  terlebih dahulu. “Apalagi proyeknya akan dimulai 2018, jadi cukup waktu untuk berpikir mencari rumah di daearh mana,” ujarnya.

Kawasan kampung Warga Lemah Abang RT 002/RW 021 Kadipiro.(Mentari.online)

Seorang warga RT 002/RW 021 Kadipiro, Sumijan (57), juga bersedia melepas lahan yang kini ditempatinya untuk proyek KA bandara asal pemerintah memberikan ganti rugi yang setimpal. Dia juga meminta pemerintah menghargai lahan warga dengan status hak milik (HM) minimal tiga kali lipat dari harga pasaran tanah senilai Rp3 juta/meter persegi.

“Harga tanah di sini sudah mencapai Rp3 juta/meter persegi. Jika ingin memanfaatkan lahan warga untuk proyek KA bandara, pemerintah minimal harus membayar ganti rugi tiga kali lipat dari harga pasaran tanah sekarang,” katanya.

Mereka beralasan tidak dalam kondisi menjual tanah, bahkan kehidupanya di Kadipiro sudah baik, mudah mengakses berbagai kebutuhan keluarga. (Reko Suroko)