60 Ribu Anak Rohingya Hidup Menyedihkan di Puluhan Kamp di Rakhine

0
52
Anak Rohingya (hariannusantara.com)

Rakhine, MENTARI.ONLINE – Badan PBB untuk kesejahteraan anak (UNICEF) melaporkan puluhan ribu anak Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, hidup dalam kondisi sangat menyedihkan karena seperti hidup di penjara.

Sejak akhir Agustus 2017, lebih dari 650 ribu warga Rohingya telah mengungsi ke serah perbatasan Myanmar-Bangladesh yaitu Cox’s Bazaar, untuk terhindar dari kekerasan dan persekusi di negara bagian Rakhine. Kurang lebih setengah pengungsi Rohingya itu merupakan anak-anak.

Penasihat senior UNICEF, Marixie Mercado yang baru saja kembali dari kunjungan ke Myanmar mengatakan, sulit untuk memperoleh gambaran sebenarnya mengenai anak-anak yang masih berada di sana, karena tidak adanya akses.

Namun, ia dapat memperoleh fakta yang disebutnya sebagai pandangan sekilas yang merisaukan tentang betapa menyedihkan kehidupan anak-anak yang berada di Rakhine Tengah.

Mercado menjelaskan, lebih dari 60 ribu anak Rohingya masih berada di negara bagian Rakhine, mengalami nasib hampir terlupakan dan terjebak dalam 23 kamp tempat mereka mengungsi akibat kekerasan tahun 2012. Mercado mendeskripsikan kondisi di dua kamp yang dikunjunginya.

Dua kamp yang didatangi Mercado berada di bawah permukaan laut dengan nyaris tidak ada pohon sama sekali. Lingkungan di sekitar kamp tersebut merupakan genangan air limbah. Tanah yang dipasangi kemah untuk hidup anak-anak Rohingya itu sudah penuh sampah serta kotoran manusia.

“Hal pertama yang menyambut kita di kamp adalah bau yang menyengat yang membuat kita merasa mual,” ungkap Mercado.

Lalu pada salah satu kamp, kolam tempat orang mengambil air hanya terpisah tanggul tanah dari genangan air limbah. Sebagian dari anak-anak itu sudah meninggal karena penyakit atau kecelakaan.

Anak Rohingya (hariannusantara.com)

Tidak mudah bagi warga Rohingya tersebut pergi dari kamp itu guna memperoleh perawatan medis. Sehingga mereka terpaksa mengobati sakit mereka sendiri, atau minta bantuan kepada penyedia layanan kesehatan tidak terlatih bahkan kepada tabib tradisional.

Mercado menandaskan di kamp-kamp warga Rohingya di Rakhine Tengah tersebut memerlukan akses layanan yang perlu ditingkatkan agar jiwa mereka bisa diselamatkan. Selain itu akses pendidikan juga perlu ditingkatkan agar anak-anak bisa mendapat pendidikan yang layak.

Di kamp-kamp tersebut, pembelajaran dilakukan di ruang kelas sementara yang tidak sesuai untuk tempat belajar. Sementara guru-guru yang mengajar di tempat itu adalah guru-guru relawan mempunyai jiwa pengabdian luar biasa namun belum memiliki pelatihan formal. (joe/Liputan6.com/VOAIndonesia)